Hujan lebat membasahi gedung-gedung ibukota. Sebuah teriakan terdengar dari luar ruangan, mengagetkan seisi lorong. Seorang pria mondar-mandir nampak resah. Bahkan, semua orang di lorong turut khawatir sambil menyebut asma’ tuhan. Lorong panjang itu ramai dengan lalu lalang perawat dan dokter yang sibuk mengurus beberapa pasien. Tidak untuk pria resah itu, dia hanya terus jalan kesana kemari tidak menghiraukan yang lain. Hanya detak jam dinding yang terdengar di kepala.
Waktu tak terasa menunjukkan pukul 3 dini hari. Keluarlah seorang dokter paruh baya beserta perawat dari ruangan, menambah kekhawatiran setiap orang. Si pria resah itu bergegas mendekati dokter. Bertanya dan berharap kabar baik yang dia dengar. Sang dokter tersenyum disambut dengan senyuman si pria resah itu. Sambil berbicara, tiba-tiba terdengar tangisan kecil tanda kehidupan. Sebuah tangisan yang membuat mata setiap orang meneteskan air kebahagiaan. Bagaimana tidak, yang baru saja lahir ke dunia pada tanggal 18 bulan kelima tahun ke-2 abad ke-21 itu adalah anak dan cucu pertama mereka. Dia lah secercah harapan itu.
******
“abang! Cepat kesini” teriak ibu memanggilku
“iyaa mahh, bentar” jawab ku singkat. Terbangun diriku dari kasur bergegas menyambut panggilan ibu.
“tolong belikan ummah sayur sawi dan ikan asin di pasar, bilang ke ibu Wati besok dibayar” ucap ibu kepadaku.
“baik ummah” jawab ku
Aku dan kedua adikku dari dulu sering diajarkan memanggil ibu dengan sebutan ummah, yang berarti ibu dalam bahasa arab. Karena memang kedua orang tua ku suka bergaul dan berteman dengan orang keturunan arab.
Ku ambil dompet, rokok, dan kunci motor yang kutinggalkan diatas meja dan langsung bergegas pergi menuju pasar. Sesampainya di pasar, aku langsung menuju ke tempat yang ummah suruh. Suasana pasar sepi dan tidak banyak orang. Tidak seperti biasanya. Wajar, pertengahan tahun 2021 memang puncak dari virus COVID 19, khususnya di daerah ibukota dan sekitarnya.
Setelah mendapatkan apa yang ummah minta, aku langsung menuju parkiran motor untuk pulang. Tiba-tiba handphone ku berdering. Ku raih handphone yang ada di saku celanaku sambil kulihat siapa yang menelpon ku. Ternyata, itu adalah Ali, teman satu angkatan di pondok dulu. Kuangkat telepon itu.
“oii, tadi ana dikabari kalo kita harus siap-siap” ucap Ali kepadaku
“siap-siap ngapain li?” tanya ku
“siap-siap buat berangkat ke Iran lah! Alhamdulillah kita diterima” jawab Ali
“Alhamdulillah ya rabb!” jawab ku senang
“ya udah, nanti di chat aja ya li, ini ana lagi di luar. Kabari terus ya li, Syukron” ucap ku sambil menutup telepon.
Tidak pakai lama aku sujud syukur disamping motorku. Orang-orang melihatku dengan heran. Bangun diriku dengan malu langsung pulang ke rumah dengan rasa syukur.
Di rumah bergegas aku beri tahu kabar baik ini ke keluargaku. Aku kumpulkan mereka semua di meja makan. Semuanya bingung menatapku.
“semuanya maaf mengambil waktu kalian sebentar. Ada kabar yang ingin aku kasih tau ke kalian semua” ucap ku terbata-bata
“Alhamdulillah tadi di pasar aku ditelpon oleh temanku kalau aku diterima untuk melanjutkan studi di Iran. Akhir tahun ini aku berangkat kesana” lanjut ku
Ayah, ummah dan kedua adikku langsung memelukku erat sambil meneteskan air mata bahagia. Apalagi ayah dan ummah ku. Bagaimana tidak, melanjutkan anaknya studi ke Iran adalah salah satu cita-cita mereka.
Untuk kedua kalinya aku harus berpisah dengan keluargaku yang sebelumnya sudah aku lakukan ketika pertama kali diri ini memutuskan untuk meninggalkan kehidupan remaja di SMA favorit lalu menghilang di kota kecil bernama Bangil demi bisa menjadi seorang santri.
21 Desember 2021 jam 8 malam bukan hanya sekedar tanggal dan waktu. Tetapi, tertulisnya kata baru di lembaran kehidupanku yang rela pergi sementara ke negeri yang jauh demi kembali mengabdi untuk agamaku dan negaraku.
Pelukan dan tangisan adalah hal yang normal terjadi di setiap bandara dan stasiun. Memang kedua tempat ini adalah jalur bertemu dan berpisahnya setiap orang. kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dari tempat ini, dan Pada akhirnya aku merasakan hal tersebut. Pada akhirnya aku harus berpisah untuk bisa merasakan manis nya pertemuan.
“jangan khawatirkan ayah, ummah dan adik-adikmu. Doa kami selalu bersama abang. Kejar cita-cita dan impian abang. dimana bumi dipijak disitu langit di junjung. Kami sayang abang dan tetaplah menjadi secercah harapan itu”
Itulah ucapan terakhir ayah dan ummah untukku sebelum aku pergi meninggalkan ibu pertiwi.
********